oleh : M.Nur Syuhada' * Setiap manusia tak luput dari apa namanya musibah apakah yang datang pada dirinya sendiri atau pada orang yang disayanginya. Dan apakah pernah kita mengira musibah itu datang dengan memberi kabar sebelumnya, bahwa esok tepat pada waktunya ia akan datang menghampiri kita. Karena itu musibah disebut sebagai peristiwa yang mengesankan bagi orang yang merasakannya.
Pada umumnya secara emosional ketika seseorang mengalami musibah, awalnya pastilah akan mengalami goncangan kejiwaan yang mendalam dan hal ini bila tidak diiringi dengan mental yang kuat, bagaikan seperti pribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga” ia akan membuat musibah itu melahirkan satu musibah baru yaitu ketidakmampuannya dalam menyikapi musibah.
Kerajaan Perancis sebelum masa revolusinya yang dahsyat pernah menahan dua penyair ulung mereka, pertama seseorang yang bersifat optimistis, sedang yang kedua bersifat pesimistis. Saat dipenjara keduanya mengeluarkan kepalanya masing-masing dari jendela penjara. Adapun yang bersifat optimistis, maka ia menatapkan pandangannya ke arah bintang-bintang, lalu ia tersenyum, sedang yang pesimistis memandang ke bawah melihat tanah yang ada di jalan sebelah penjaranya, lalu ia menangis. Dari sini kita perlu menyadari bahwa setiap celah kehidupan manusia masih ada secercah harapan yang membawa kita pada kebahagiaan; seperti yang dialami penyair pertama, walaupun baginya peristiwa tersebut adalah musibah, namun ia tetap berusaha mencoba menghidupkan secercah harapannya bahwa ia tidak perlu putus asa dengan peristiwa yang dialaminya.
Keputusasaan
Keputusasaan adalah akibat dari hantaman keras kehidupan dan tanggapan emosional terhadap hantaman itu. Dan ia sebagai kenyataan dan kesadaran bahwa hidup penuh dengan pengalaman emosional; mulai dari rasa senang hingga rasa sakit, mulai dari tawa hingga air mata, mulai dari kemenangan hingga rasa takut. Saat-saat kita mengalami keputusasaan memanglah hal yang sulit untuk diterima, namun ketika kita mau menyadari bahwa hal itu sebenarnya dapat membantu kita untuk menghargai arti kebahagiaan, yang mengajak untuk kembali berpikir bahwa ini adalah sebagai ujian hidup dan agar merenungkan kembali tujuan utama hidup sesesorang. Dan saat itulah lahir secercah harapan yang akan membawa seseorang menuju cahaya fajar kehidupan, dengan melepaskan semua beban berat kepahitan yang merusak, kebencian, rasa takut dan rasa bersalah, dan berkata “ Aku bangkit, Dan inilah aku”.
Keluar Dari Pikiran Mantap, Mantapkan Pikiran.
“Kupikir aku telah merusak hidupku, tidak ada lagi yang dapat kuperbuat dan ini terasa sulit bagiku”
Apakah pernah anda berpikir seperti itu, dan itulah salah satu contoh “pikiran mantap”. Selama seseorang masih dihantui pikiran mantapnya dan ia meyakini pikiran itu, sepanjang waktu yang dihabiskannya untuk berubah, ia akan terus berputar-putar pada pikiran itu dan akan tetap berada pada kegelapan, yang akhirnya dapat merusak dirinya sendiri. Ia akan merusak dirinya sendiri bukan karena alasan yang ia pikirkan, tetapi karena kekuatan yang ia berikan pada pikiran itu.
Coba kita benar-benar mengambil waktu sejenak sendirian dengan membiarkan diri kita bertanya-tanya. Dan cobalah memikirkan hal-hal yang ingin kita ubah dalam diri kita dan kemudian dengarkanlah dengan sangat hati-hati suatu dialog dalam diri kita yang akan melawan keinginan kita untuk mengubah hal-hal yang berkaitan dengan diri anda. Memang adakalanya sangat sulit untuk mendengarkan diri kita sendiri. Dan disinilah kita perlu keyakinan dan kesadaran bahwa setiap dari kita pasti dapat berubah dan keluar dari pikiran mantap itu dengan secercah harapan yang kita miliki.
Sebuah pesan negatif merupakan serangkaian pikiran negatif yang didasarkan pada pikiran mantap yang sangat kuat dan sangat dalam. Sekali kita memikirkan hal itu, atau ibarat menekan tombol “on,” opss..! maka rekaman pemikiran negatif itu akan mengambil alih. Rekaman itu tidak hanya menjalankan pikiran, tetapi juga menghasilkan emosi jelek, dan kemudian mengingatkan kembali ingatan jelek.
Seseorang dapat mengubah cara berpikir tentang dirinya sendiri dan tentang dunianya. Apakah aku ingin membiarkan kejadian ini atau seseorang membuatku merasa seperti ini? Apakah aku harus berubah?. Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan memulai kita untuk menghidupkan harapan, dengan memiliki konsep diri yang baik. Dan itu bukanlah hal yang kita harapkan agar seseorang akan memberikannya pada kita, tetapi disini kita dicoba untuk berani memulainya. Lalu bagaimana agar kita memperolehnya? Pertama, putuskan bahwa kita menginginkan konsep diri yang baik. Kedua, mulailah dari sekarang memimpikan tentang diri kita untuk lebih menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bayangkanlah diri kita melakukan hal-hal yang akan membuat kita menjadi bermanfaat. Mulailah mengembangkan pikiran mantap yang kuat tentang diri dalam suatu cara yang positif. Setiap kali mendengar rekaman negatif mulai terdengar, katakan pada diri kita untuk menghentikan rekaman tersebut. Ketiga, mulailah menyiapkan tujuan-tujuan yang dapat dicapai yang akan membuat diri kita merasa lebih baik. Dan yakinkan untuk memberi diri kita pujian karena telah mencoba hal-hal yang membuat kita merasa baik.
Aku telah menutup pintu hari kemarin dan melempar kuncinya.
Esok hari tak ada keraguan bagiku sebab aku telah menemukan hari ini.
Berani Mengambil Keputusan
Tak gampang memang ketika seseorang dituntut membuat keputusan, apalagi hal ini menyangkut hidup dan mati. Maka keberanian adalah jawabannya, dan tentu saja kebijaksanaan harus juga diutamakan. Perubahan untuk meraih kebahagiaan dari keputusasaan, dapat diraih dengan menghidupkan harapan dalam diri kita, dan tentunya harapan itu lahir atau tidak, tergantung dari keputusan kita. Apa kita terus menangisi keadaan kita, tetap berdiam diri, atau menyadari dalam diri kita bahwa dalam diri kita terdapat kekuatan untuk berubah.
Mengenai pengambilan keputusan, ada cerita menarik yang mungkin dapat menjadi inspirasi kita. Suatu saat ada seorang guru yang sangat bijaksana, dan ia selalu mempunyai jawaban yang tepat pada tiap masalah yang diajukan murid-muridnya. Dan saat itu seseorang anak laki-laki muridnya mencoba bertanya pada guru tersebut dalam suatu keadaan yang bagi anak laki-laki tersebut dapat membuat gurunya sulit untuk memutuskannya. Dia maju ke depan kelas sambil membawa seekor burung kecil yang ditemukannya, dan berkata, “Katakan padaku, ibu guru, karena ibu sangat bijaksana, apakah burung di tanganku ini hidup atau mati? Bila gurunya menjawab “Mati” anak itu akan membuka tangannya dan membiarkan burung itu terbang. Bila guru itu menjawab “Burung itu hidup,” maka dia akan meremas tangannya hingga burung itu mati, lalu menunjukkan pada gurunya. Tetapi karena guru itu bijaksana, dia menjawab, “Burung itu hidup atau mati, tergantung pada keputusanmu.”
Berubah atau tidaknya kita tergantung pada keputusan kita sendiri dan tentu saja tidak terlepas dari ketentuan Sang Maha Kuasa. Oleh karena itu cobalah untuk mendengar suara dari dalam hati kita untuk memutuskan bahwa aku ingin berubah dan berhenti memainkan peran sebagai orang yang putus asa, cukuplah ia menjadi pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Kemudian kita dapat berjalan dengan tegar, dan memulainya dengan harapan, untuk meraih kebahagiaan. ^_^
*Mahasiswa Jurusan Psikologi
Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta.
copy right.@