Selasa, 11 November 2008

Si Bocah Belawan

Bocah Belawan mereka memanggilku, panggilan yang sesuai dengan kota kelahiranku itu. Kota yang penuh dengan hiruk pikuk manusia. Berbagai suku budaya akan kau temuin disana, ada orang batak,melayu, jawa, padang, aceh, bali, bugis, banjar, tionghoa, india dan lainnya. Entah kenapa begitu bermacamnya orang disana, mungkin karena sudah dari dulunya menjadi persinggahan manusia-manusia yang entah dari mana saja datangnya.
Belawan.. ya itu kota ku, salah satu kota pelabuhan terbesar indonesia. Kota yang telah menjadikan seorang bocah menjadi pemberani. Berani Menjalani Hidup.

Waktu itu aku suka sekali memandangi Langit yang terhampar luas disana, aku teringat akan perkataan Bung Karno “Gantungkanlah Cita-Citamu Setinggi Langit”. Sejak itu aku menjadi selalu teringat perkataan itu. Dan Bocah pemberani ini kini harus berjuang menjalani kenyataan hidupnya selama ini, berjuang untuk mencapai cita-cita di pulau yang padat penduduk ini. Sudah lima tahun aku berada disini untuk menuntut Ilmu. Apalagi sejak kutinggalkan kota itu, aku sudah memutuskan untuk menjadi perantau sejati. Perantau sejati, ya.. seperti layaknya seorang petualang sejati yang terus berjalan untuk mencari kebahagiaan di dunia yang fana ini. Kebahagiaan yang dapat membahagiakan orang-orang yang disekitarku. ”Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung”, itulah yang aku pahami selama ini. Aku anggap sebagai bekal untuk menjadi petualang sejati


Sudah lama diriku tak menginjakkan kaki di kota kelahiranku itu, kata orang kota itu gak begitu berubah. Ia tetap seperti dulu yang tak habisnya dengan orang-orang yang singgah dan mengadu nasibnya. Aku jadi teringat akan Kawan-Kawan petualangku dulu. Sudah lama kami tidak saling bertemu, dulunya kami sering bermain dan berpetualang bersama-sama. SiWawan anak bali yang kabarnya sudah tinggal di bali, SiEdi Cipit anak tionghoa yang kini sedang bekerja dijakarta dan SiAndi yang juga anak tionghoa yang tetap saja memijakkan kakinya disana. Waktu itu kami menyebutnya dengan sebutan empat sekawan, panggilan yang cukup simple. Empat sekawan yang suka berpetualang.


Minggu pagi setelah shubuh,

Wawan : "Da', jadi gak kita jalan-jalan pagi?

"Jadilah wan, mana yang lain?"jawab Hada'.

Wawan: "Paling masih tidur".

Tiba-tiba andi datang dan menyahut "Woi aku uda bangun nih".

Hada' : "Kalo gitu habis ini kita bangunin edi dulu".

Wawan:"Ah kau ajalah da' malas aku, takut aku ama bapaknya".

Hada' : "Kita sama-sama aja, nanti biar andi yang ngomong ama bapaknya pake bahasa planet.."

Andi : "Apa.. bahasa planet"

Hada' : "haha.. Ayam Sori., maksudnya bahasa cina ndi..".

Wawan : "Alah...Udahlah ayo kita kesana, nanti malah kesiangan nih.. uda jam 6.." "Oke..."sahut Hada' dan Andi..

Bersambung dulu ya...
By : Syahid As-Shiddieq

Jumat, 06 Juni 2008

Membangkitkan Harapan

oleh : M.Nur Syuhada' *

Setiap manusia tak luput dari apa namanya musibah apakah yang datang pada dirinya sendiri atau pada orang yang disayanginya. Dan apakah pernah kita mengira musibah itu datang dengan memberi kabar sebelumnya, bahwa esok tepat pada waktunya ia akan datang menghampiri kita. Karena itu musibah disebut sebagai peristiwa yang mengesankan bagi orang yang merasakannya.

Pada umumnya secara emosional ketika seseorang mengalami musibah, awalnya pastilah akan mengalami goncangan kejiwaan yang mendalam dan hal ini bila tidak diiringi dengan mental yang kuat, bagaikan seperti pribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga” ia akan membuat musibah itu melahirkan satu musibah baru yaitu ketidakmampuannya dalam menyikapi musibah.

Kerajaan Perancis sebelum masa revolusinya yang dahsyat pernah menahan dua penyair ulung mereka, pertama seseorang yang bersifat optimistis, sedang yang kedua bersifat pesimistis. Saat dipenjara keduanya mengeluarkan kepalanya masing-masing dari jendela penjara. Adapun yang bersifat optimistis, maka ia menatapkan pandangannya ke arah bintang-bintang, lalu ia tersenyum, sedang yang pesimistis memandang ke bawah melihat tanah yang ada di jalan sebelah penjaranya, lalu ia menangis. Dari sini kita perlu menyadari bahwa setiap celah kehidupan manusia masih ada secercah harapan yang membawa kita pada kebahagiaan; seperti yang dialami penyair pertama, walaupun baginya peristiwa tersebut adalah musibah, namun ia tetap berusaha mencoba menghidupkan secercah harapannya bahwa ia tidak perlu putus asa dengan peristiwa yang dialaminya.

Keputusasaan

Keputusasaan adalah akibat dari hantaman keras kehidupan dan tanggapan emosional terhadap hantaman itu. Dan ia sebagai kenyataan dan kesadaran bahwa hidup penuh dengan pengalaman emosional; mulai dari rasa senang hingga rasa sakit, mulai dari tawa hingga air mata, mulai dari kemenangan hingga rasa takut. Saat-saat kita mengalami keputusasaan memanglah hal yang sulit untuk diterima, namun ketika kita mau menyadari bahwa hal itu sebenarnya dapat membantu kita untuk menghargai arti kebahagiaan, yang mengajak untuk kembali berpikir bahwa ini adalah sebagai ujian hidup dan agar merenungkan kembali tujuan utama hidup sesesorang. Dan saat itulah lahir secercah harapan yang akan membawa seseorang menuju cahaya fajar kehidupan, dengan melepaskan semua beban berat kepahitan yang merusak, kebencian, rasa takut dan rasa bersalah, dan berkata “ Aku bangkit, Dan inilah aku”.

Keluar Dari Pikiran Mantap, Mantapkan Pikiran.

Kupikir aku telah merusak hidupku, tidak ada lagi yang dapat kuperbuat dan ini terasa sulit bagiku”

Apakah pernah anda berpikir seperti itu, dan itulah salah satu contoh “pikiran mantap”. Selama seseorang masih dihantui pikiran mantapnya dan ia meyakini pikiran itu, sepanjang waktu yang dihabiskannya untuk berubah, ia akan terus berputar-putar pada pikiran itu dan akan tetap berada pada kegelapan, yang akhirnya dapat merusak dirinya sendiri. Ia akan merusak dirinya sendiri bukan karena alasan yang ia pikirkan, tetapi karena kekuatan yang ia berikan pada pikiran itu.

Coba kita benar-benar mengambil waktu sejenak sendirian dengan membiarkan diri kita bertanya-tanya. Dan cobalah memikirkan hal-hal yang ingin kita ubah dalam diri kita dan kemudian dengarkanlah dengan sangat hati-hati suatu dialog dalam diri kita yang akan melawan keinginan kita untuk mengubah hal-hal yang berkaitan dengan diri anda. Memang adakalanya sangat sulit untuk mendengarkan diri kita sendiri. Dan disinilah kita perlu keyakinan dan kesadaran bahwa setiap dari kita pasti dapat berubah dan keluar dari pikiran mantap itu dengan secercah harapan yang kita miliki.

Sebuah pesan negatif merupakan serangkaian pikiran negatif yang didasarkan pada pikiran mantap yang sangat kuat dan sangat dalam. Sekali kita memikirkan hal itu, atau ibarat menekan tombol “on,” opss..! maka rekaman pemikiran negatif itu akan mengambil alih. Rekaman itu tidak hanya menjalankan pikiran, tetapi juga menghasilkan emosi jelek, dan kemudian mengingatkan kembali ingatan jelek.

Seseorang dapat mengubah cara berpikir tentang dirinya sendiri dan tentang dunianya. Apakah aku ingin membiarkan kejadian ini atau seseorang membuatku merasa seperti ini? Apakah aku harus berubah?. Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan memulai kita untuk menghidupkan harapan, dengan memiliki konsep diri yang baik. Dan itu bukanlah hal yang kita harapkan agar seseorang akan memberikannya pada kita, tetapi disini kita dicoba untuk berani memulainya. Lalu bagaimana agar kita memperolehnya? Pertama, putuskan bahwa kita menginginkan konsep diri yang baik. Kedua, mulailah dari sekarang memimpikan tentang diri kita untuk lebih menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bayangkanlah diri kita melakukan hal-hal yang akan membuat kita menjadi bermanfaat. Mulailah mengembangkan pikiran mantap yang kuat tentang diri dalam suatu cara yang positif. Setiap kali mendengar rekaman negatif mulai terdengar, katakan pada diri kita untuk menghentikan rekaman tersebut. Ketiga, mulailah menyiapkan tujuan-tujuan yang dapat dicapai yang akan membuat diri kita merasa lebih baik. Dan yakinkan untuk memberi diri kita pujian karena telah mencoba hal-hal yang membuat kita merasa baik.

Aku telah menutup pintu hari kemarin dan melempar kuncinya.

Esok hari tak ada keraguan bagiku sebab aku telah menemukan hari ini.

Berani Mengambil Keputusan

Tak gampang memang ketika seseorang dituntut membuat keputusan, apalagi hal ini menyangkut hidup dan mati. Maka keberanian adalah jawabannya, dan tentu saja kebijaksanaan harus juga diutamakan. Perubahan untuk meraih kebahagiaan dari keputusasaan, dapat diraih dengan menghidupkan harapan dalam diri kita, dan tentunya harapan itu lahir atau tidak, tergantung dari keputusan kita. Apa kita terus menangisi keadaan kita, tetap berdiam diri, atau menyadari dalam diri kita bahwa dalam diri kita terdapat kekuatan untuk berubah.

Mengenai pengambilan keputusan, ada cerita menarik yang mungkin dapat menjadi inspirasi kita. Suatu saat ada seorang guru yang sangat bijaksana, dan ia selalu mempunyai jawaban yang tepat pada tiap masalah yang diajukan murid-muridnya. Dan saat itu seseorang anak laki-laki muridnya mencoba bertanya pada guru tersebut dalam suatu keadaan yang bagi anak laki-laki tersebut dapat membuat gurunya sulit untuk memutuskannya. Dia maju ke depan kelas sambil membawa seekor burung kecil yang ditemukannya, dan berkata, “Katakan padaku, ibu guru, karena ibu sangat bijaksana, apakah burung di tanganku ini hidup atau mati? Bila gurunya menjawab “Mati” anak itu akan membuka tangannya dan membiarkan burung itu terbang. Bila guru itu menjawab “Burung itu hidup,” maka dia akan meremas tangannya hingga burung itu mati, lalu menunjukkan pada gurunya. Tetapi karena guru itu bijaksana, dia menjawab, “Burung itu hidup atau mati, tergantung pada keputusanmu.”

Berubah atau tidaknya kita tergantung pada keputusan kita sendiri dan tentu saja tidak terlepas dari ketentuan Sang Maha Kuasa. Oleh karena itu cobalah untuk mendengar suara dari dalam hati kita untuk memutuskan bahwa aku ingin berubah dan berhenti memainkan peran sebagai orang yang putus asa, cukuplah ia menjadi pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Kemudian kita dapat berjalan dengan tegar, dan memulainya dengan harapan, untuk meraih kebahagiaan. ^_^

*Mahasiswa Jurusan Psikologi

Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta.
copy right.@

Keluarga Adalah Anugerah Terindah

oleh : M.Nur Syuhada' *

Salah satu hal yang dicari setiap manusia dalam kehidupan ini adalah kebahagiaan, meskipun setiap orang berbeda indikatornya. Sedang lapar menemukan makanan lezat, sedang sulit menemukan kemudahan, sedang kesepian ketemu teman atau kekasih, sedang butuh uang dapat rezeki nomplok dan banyak lagi lainnya. Dan semua kebahagiaan tersebut berhubungan dengan misteri subyektif manusia karena bila itu bahagia baginya belum tentu bahagia bagi orang lain, tetapi intinya bahagia tidak terlepas atas datangnya pertolongan Allah hingga memperoleh sesuatu yang dianggap sebagai kebahagiaan yang di Anugerahkan Allah SWT.

Prof. Achmad Mubarok; Dewan Penasehat Asosiasi Psikologi Islami, menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab ada empat kata yang berhubungan dengan kebahagiaan, yaitu sa’adah (bahagia), falah (beruntung) najat (selamat) dan najah (berhasil). Jika sa’adah (bahagia) mengandung nuansa anugerah Tuhan setelah terlebih dahulu mengarungi kesulitan, maka falah mengandung arti menemukan apa yang dicari. Falah ada dua macam, dunia dan akhirat. Falah dunia adalah memperoleh kebahagian yang membuat hidup di dunia terasa nikmat, yakni menemukan; (a) keabadian (terbatas); umur panjang, sehat selalu, kebutuhan tercukupi selalu dsb, (b) kekayaan; segala yang dimiliki jauh melebihi dari yang dibutuhkan, dan (c) kehormatan social. Sedangkan Falah Akhirat terdiri dari empat macam, yaitu (a) keabadian tanpa batas, (b) kekayaan tanpa ada lagi yang dibutuhkan, (c) kehormatan tanpa ada unsur kehinaan, dan (d) pengetahuan hingga tiada lagi yang tidak diketahui. Sedangkan Najat merupakan kebahagiaan yang dirasakan karena merasa terbebas dari ancaman yang menakutkan.

Hampir seluruh budaya menempatkan kehidupan keluarga sebagai ukuran kebahagian yang sebenarnya. Walaupun seseorang gagal karir di luar rumah, tetapi sukses membangun keluarga yang kokoh dan sejahtera, maka tetaplah ia dipandang sebagai orang yang sukses dan berbahagia. Sebaliknya orang yang sukses di luar rumah, tetapi keluarganya berantakan, maka ia tidak disebut orang yang beruntung, karena betapun sukses yang diraih, tetapi kegagalan dalam rumah tangganya akan tercermin di wajahnya, dan tercermin juga dalam pola hidupnya yang tidak bahagia. Jadi sungguh berbahagialah orang-orang yang sukses dalam membangun keluarga yang bahagia.

Namun di balik kesuksesan tersebut rahasia apa yang harus dilakukan untuk menjadi keluarga yang bahagia, menurut hemat saya keluarga bahagia pertama; dapat terbentuk dengan adanya keselarasan fungsi dan peran dari setiap anggota tersebut, fungsi dan peran dalam artian tanggung jawab dan selaras dalam hubungan yang harmoni antar anggota keluarga. Bila dari setiap anggota sadar akan tanggung jawabnya masing-masing serta selalu menjaga keharmonisan dalam keluarga sudah pasti kebahagiaan adalah anugerah terindah bagi keluarga tersebut. Seorang Ayah sadar tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, yang bukan hanya sekedar mencari nafkah tetapi juga sebagai penganyom dalam keluarga, seorang ibu paham tanggung jawabnya sebagai ibu yang senantiasa menjadi penyejuk dalam keluarga, seorang anak mengerti tanggung jawabnya sebagai buah hati orang tua yang senantiasa selalu membahagiakannya. Lalu bagaimana dalam perkembangan jaman modern saat ini yang sudah menuntut bahwa pria dan wanita memiliki peran yang sama (gender), bagi saya kesamaan peran tersebut terletak pada kejelasan akan tanggung jawabnya saja, bahwa dalam rumah tangga ada kesamaan rasa tanggung jawab yang harus dijalankan bersama, contohnya; mencari nafkah atau menjaga keutuhan ekonomi keluarga itu bukan saja pria (suami) yang harus bertanggung tetapi wanita (istri) juga harus bertanggung. Tidak berharap, barangkali saja bila suaminya sakit keras atau meninggal sang istri tidak akan perlu lagi takut untuk menjaga keutuhan ekonomi keluarga karena sudah memiliki bekal mencari nafkah. Yang kedua; adanya hubungan atas dasar saling membutuhkan, seperti apa yang ada dalam Al-Qur’an “ hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna” (mereka adalah pakaian kamu dan kamu adalah pakaian mereka) (QS. 2: 187). Maksudnya setiap anggota keluarga paham akan apa yang menjadi kebutuhan setiap anggota keluarga, baik itu secara lahir maupun batin dan juga seperti apa yang di analogkan Al-Qur’an di atas bahwa pakaian memiliki fungsi sebagai pelindung dan perhiasan, jadi setiap anggota keluarga adalah pelindung dan perhiasan bagi keluarganya. Seorang ayah mengerti akan kebutuhannya sebagai suami;,seperti, kebutuhan biologis, kehormatan, kasih sayang,dsb. Dan ia juga mengerti kebutuhan anggota keluarganya yang lain, anak butuh akan kasih sayangnya, istri membutuhkan kehangatannya, dsb. Serta sebagai suami ia akan senantiasa melindungi keluarganya dari berbagai ancaman dan menghiasi keluarganya dengan mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh. Seperti apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an bahwa agar senantiasa memelihara diri serta keluarga “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS 66: 6).

Bila kita memperluas lagi arti keluarga sebenarnya bukan hanya pada lingkup keluarga dalam rumah tangga saja, tetapi sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari arti penting keluarga dapat kita aplikasikan, seperti; dalam pergaualan kita sehari-hari, lingkungan kampus, kos, organisasi, atau teman-teman terdekat. Dan bila arti penting keluarga ini dapat kita aplikasikan dalam perjalanan hidup kita, sebuah keyakinan bahwa kita akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan yang menjadi anugerah terindah bagi hidup kita. Dan bagaimana juga rahasianya, menurut hemat saya tidak jauh berbeda dengan seperti apa yang saya jelaskan diatas bahwa pertama memang harus ada keselarasan antar fungsi dan peran dan kedua adanya hubungan atas dasar saling membutuhkan baik lahir dan batin. Dan sekali lagi saya tegaskan bila hal ini teraplikasi dalam kehidupan kita sehari-hari baik itu lingkungan kampus, masyarakat maupun bangsa. Saya yakin kebahagiaan akan datang menjadi anugerah terindah dalam hidup kita semua. Contohnya dalam keluarga kampus, seorang dosen dan mahasiswa menjaga kesalarasan dalam menjalankan fungsi dan perannya. Dosen bertanggung jawab untuk mendidik, menyayangi dan mengembangkan kemampuan mahasiswanya, dan mahasiswa bertanggung jawab untuk belajar dan menghormati dosennya. Dan contohnya lagi dalam lingkup Negara, seorang Presiden bertanggung jawab akan kepemimpinannya dan memahami akan kebutuhan rakyatnya dan sebaliknya sebagai rakyat paham akan apa yang dibutuhkan bangsannya.

Keberhasilan dalam membangun keluarga bahagia adalah impian setiap orang., seperti apa yang dikatakan teman saya “Bermimpilah, lalu bangun dan wujudkan mimpimu”.oleh karena itu jangan sia-siakan mereka bahwa keluarga adalah anugerah terindah.

*Ketua IMM UII Periode 2006-2007
Jogjakarta